Kamis, 06 Maret 2014

Hikmah dibalik ujian II




Setelah aku mendapatkan surat panggilan dari IPB beberapa minggu setelah aku dinyatakan lulus seleksi. Aku baru sadar bahwa per-semesternya dikenakan biaya Rp. 5.000.000. Lagi- lagi aku menanyakan kemampuan orangtua dalam membiayai aku kedepannya.  Orangtua  menyanggupinya dengan bayaran yang cukup mahal tersebut. Tapi aku tidak terlalu yakin atas jawaban orangtuaku ini. Aku tahu persis keadaan kondisi keuangan keluargaku. uang semster yang dikenakan belum termasuk biaya  pangkal. Saya hampir putus asa dengan keadaan tersebut.
Orangtua selalu meyakinkanku bahwa mereka masih mampu untuk membiayaiku sampa selesai. aku tak henti-henti meminta kepada Allah  yang terbaik buat aku dan keluarga ke depannya, bukan menyusahkan keluarga aku tapi menyenangkan bagi keluarga aku. Selama itu aku diserang galau akut. Semoga Allah memberi jalan keluarnya.
Setelah beberapa bulan dari pengumuman USMI. Pengumuman SNMPTN pun tiba, aku merasa harap-harap cemas karena jika aku tidak keterima aku harus mengambil akuntansi di IPB dan itu mau tidak mau harus membayar biaya cukup mahal. Setelah waktu yang dinanti tiba aku melihat pengumuman tersebut dilaptop kakakku dan alhasil kabar baik yang aku lihat. Saat aku melihat pengumuman SNMPTN.
Alhamdulilah aku keterima di Universitas Negeri Jakarta. Pada saat itu aku sedang berada dirumah jadi aku langsung memanggil ibuku yang sedang berada di dapur. Dengan cepat ibu menghampiri. Aku dengan cepat memberi tahu bahwa keterima di Universitas Negeri Jakarta. Dengan cepat langsung saya sujud syukur dengan rasa haru ucap terima kasih kepada Allah yang telah mempercayai saya untuk melanjutkan pendidikan ini ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Setelah aku periksa kembali, aku keterima dipilihan ke 2 di Jurusan Pend. IPS dan itu bukan pilihan pertama aku. Pilihan pertama aku adalah Bimbingan konseling. Aku bingung, karena bukan pilihan  yang pertama. Aku tanyakan lagi kepada ibu apakah diambil atau tidak? Apakah aku harus mengambil yang IPB atau yang di UNJ? Ibu menyarahkan semuanya kepada aku. Aku yang akan menjalani kedepannya. Aku dilanda galau akut kembali. Karna yang di UNJ bukan pilihan  yang pertama.
Setelah mencari jawaban yang cukup meyakinkan aku  kedepannya akhirnya aku pilih yang di UNJ. Setelah pengumuman aku harus menyiapkan berkas-berkas yang akan aku berikan kepada pihak universitas. Beberapa bulan setelah pengumuman aku dilanda galau akut.
Bukan karena pilihan yang aku ambil melainkan aku galau akan biaya kuliah kedepannya. Bingung untuk biaya semesternya yang cukup mahal, bingung akan biaya hidup aku selama berkuliah. Ibu selalu tahu apa yang sedang anaknya pikirkan. Ibu selalu menyakinkan ku bahwa aku bisa menghadapinya kedepannya. Tenang Allah selalu ada untuk aku. Itu lah kata-kata yang sering sekali ibu katakan kepada aku.
Dengan keyakinan yang ibu berikan kepada aku. Aku semakin yakin atas pilihan yang telah Tuhan berikan ini. Setelah beberapa bulan menunggu hari registrasi. Akhirnya tiba juga. Pada saat malamnya ayah memanggil aku diruang tv. Ayah memberikan amplop yang berwarna coklat. Kemudian aku menyakannya. “Untuk apa ini yah?” Ayah menjawab “ini buat besok daftar ulang, cukup gak cukup ayah punya uang segitu”.  Aku mengiyakan.
Lalu aku membuka amplop. Ternyata ayah sudah menyiapkan biaya untuk kuliah. aku dan ibu menghitungnya. Ternyata ayah memberi aku uang sebesar Rp. 8.000.000. Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rizki disaat aku membutuhkan. Pertama aku sungguh was-was sekali karena takut kurang atas apa yang diberikan oleh ayah aku. Namun aku serahkan kepada  Allah yang telah mengatur semuanya.
 Paginya aku dan ibu  berangkat ke Jakarta untuk registrasi. Setelah seharian penuh mengurusi admisnistrasi aku langsung masuk ke antrian bank untuk membayar daftar ulang. Sebelum masuk ke antrian aku melihat-lihat daftar uang kuliah tunggal (UKT).
UKT adalah uang kuliah tunggal yang diberlakukan saat satu tahun yang lalu dan akan berlaku hingga berikutnya. Sistem UKT adalah dengan menggunakan penggolongan uang gaji orang tua. Jika semakin besar gaji orangtua maka semakin besar juga uang kuliah. Mungkin sering disebut dengan subsidi silang. Selama sistem UKT berlaku maka uang pangkal yang biasanya dikenakan pada saat masuk kuliah sekarang sudah tidak diberlakukan lagi. Aku cukup bersyukur sekali, saat aku akan kuliah ada sistem baru yang diberlakukan.
Aku sudah menyiapkan uang sebesar Rp. 4.000.000. Setelah saya liat sebelumnya. Gaji ayahku termasuk ke golongan 2 dan golongan dua itu kisaran sebesar Rp. 1.000.000- Rp. 3.000.000. Setelah aku ke teler ternyata aku  hanya membayar sebesar uang Rp. 2.450.000. Ini semua jauh dari prediksi aku sebelumnya. Alhamdulilah ucap syukurku kepada Allah yang telah memberikan jalan keluar satu demi persatu. Ibu menanyakan sisa uang ini akan dikemanakan. Aku sampaikan sisanya belikan saja laptop agar aku dengan mudah mengerjakan tugas kuliah nanti. Ibu mengiyakan.
 Karena selama aku sekolah aku tak pernah dibelikan laptop ataupun apalah. Bukan karena tidak mampu. Tapi ayah selalu mengajarkan arti sebuah kesederhanaan dan berbagi. Kami harus hidup sederhana. Jika roda kehidupan ini berputar kebawah bahwa kami akan siap untuk menghadapinya. Itulah pentingnya hidup sederhana.
Setalah urusan admistrasi selesai aku dan ibu mulai menyiapkan peralatan-peralatan untuk tinggal di Jakarta. Syukururku yang tak pernah terhenti hingga akhir ini. Sesuai dengan motto hidupku saat ini “lebih banyak bersyukur”. Bersyukur disaat susah lebih baik dibandingkan bersyukur disaat senang.  Allah selalu tahu kemampuan setiap hambaNya. Maka Allah pun tidak akan menguji cobaan lebih dari batas kemampuan kita.
Setelah aku ambil hikmah selama ujian yang telah Allah beri. Aku berusaha untuk muhasabahnya. Karena aku yakin dibalik ujian pasti ada beribu hikmah yang aku dapatkan. Mungkin jika ayah tak sakit aku akan bermalas-malasan untuk berkuliah. Dan aku tidak akan pernah dewasa. Karena aku yakin kedewasaan seseorang adalah dibentuk oleh keadaan. Dewasa adalah sebuah pilihan. Dengan adanya ujian ini aku akan terus berusaha untuk mencapai cita-cita. Saya akan membanggakan ibu dan ayah saya. Biarkan ujian itu hadir dan aku akan katakan bahwa “ Aku pasti bisa mengahadapinya dan aku mampu untuk bersaing dengan yag lain”. Sekian.

Problematis Pemilih Pemula



Tanggal 9 April pesta demokrasi dimulai. Semua rakyat bersuka cita menyambutnya. Ada yang senang, berdebar-debar, sedih dan bingung. Senang dan berdebar-debar mungkin dirasakan dikalangan para calon legislatif. Sedih akan dirasakan dikalangan rakyat yang tidak bisa berpartisipasi aktif dalam pesta demokrasi. Dan yang bingung akan dirasakan bagi pemilih pemula.
Bagi pemilih pemula ini sangat membingungkan. Karena pada masa kampanye banyak sekali poster-poster yang bertebaran di jalanan dan di sudut kota. Jumlahnya pun tidak terhitung ada berapa ratus orang yang terdaftar menjadi calon legislatif. Bingung harus milih yang mana? Kalau milih yang ini bakal memihak ke rakyat gak? Apa Cuma mementingkan diri sendiri aja? Banyak sekali faktor para pemilih pemula enggan memberikan hak suaranya di pesta demokrasi. Atau biasa disebut juga dengan golput. Ini beberapa faktor-faktornya :
1.      Tidak adanya informasi tentang calon legislatif di daerah pemilihan pemula.
2.      Tidak adanya rasa kepercaya yang diberikan oleh pemilih pemula kepada calon legislatif. Karena rata-rata calon legislatif hanya bermodal materi bukan pendidikan yang tinggi.
3.      Terlalu banyak partai, calon legislatif yang bisa membingungkan pemilih saat memcoblos.
4.      Kurangnya informasi riwayat hidup calon legislatif. Sehingga tidak tahu asal usul dari mana calon legislatif.
5.      Tidak adanya blusukan kepada masyarakat , bagaimana mau dipilih sama rakyat? Jika calon legislatifnya saja tidak tahu permasalah rakyat yang sebenarnya.
6.      Sebagian calon legislatif tidak memiliki pekerjaan tetap dan ini berkemungkinan untuk mencari peluang untuk korupsi. Walaupun tidak semuanya calon legislatif.
Mungkin faktor diatas hanya segelintir saja dari permasalahan dari pesta demokrasi. Masih banyak lagi permasalahan yang membuat pemilih pemula enggan untuk berpartisipasi dalam memberikan hak suaranya. Sedangkan pemilih pemula lebih mendominasi dari jumlah penduduk Indonesia. Banyangkan saja jika pemilih pemula tidak memberikan hak suaranya. Mau dibawa kemana negara ini jika hilangnya rasa kepercayaan yang diberikan oleh pemilih pemula. Sebagai pemilih pemula mungkin golput akan lebih baik dibandingkan memberikan hak suaranya. Belum tentu calon legisatif yang dipilihnya akan berpihak pada rakyat.
Setiap manusia  itu adalah khalifah. Dan setiap apapun yang dikerjakan didunia akan dimintai pertanggung jawaban. Begitu juga dengan calon legislatif. Apabila mereka terpilih untuk mewakili rakyatnya di parlemen. Mereka akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.
Bukan saja yang dipilih yang memilih pun akan dimintai pertanggung jawabannya atas memilihnya perwakilan rakyat tersebut. Jika perwakilan rakyat yang kita pilih benar-benar memihak kepada rakyat maka pahala pun akan mengalir ke kita. Jika tidak memihak ke rakyat? Bagaimana kah itu? Dosa pun rupanya akan mengalir ke kita.
Kita sebagai pemilih pemula rupanya harus cermat dan pintar dalam memilih wakil kita di parlemen. Kita harus mengetahui visi dan misi apa yang akan mereka bawakan jika kelak terpilih mewakili kita. Mereka harus tahu apa permasalahan yang cukup pelik di masyarakatnya. Kita harus pintar mencari informasi tentang calon legislatif yang akan benar-benar mewakili kita di parlemen walaupun informasi yang diberikan amat minim. Salam Demokrasi.

Kakak



Hari Minggu tanggal 2 Maret tepat pukul 09.30 kereta krakatau tiba di stasiun Serang. Kereta krakatau adalah kereta yang akhir tujuannya di Kediri. Namun disini tidak akan menceritakan tentang kereta api. Aku akan menceritakan seorang pemuda yang akan mencari peruntungan di Kota Pelajar. Seorang pemuda yang aku sayangi dan aku cintai. Dia adalah kakakku. Usia yang cukup muda bagiku, saat umur 23 tahun kakakku merantau ke Kota Pelajar atau Jogjakarta.
Benar apa yang dikatakan pribahasa-pribahasa yang sering dikatakan oleh guru di masa SD. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman hidup seseorang adalah guru yang terbaik. Pengalaman hidup tidak bisa kita dapatkan dipelajaran dalam kelas. Kurikulum dari tahun ke tahun tidak pernah menyantumkan pelajaran pengalaman hidup. Yang kita ketahui pengalaman hidup itu adalah pengalaman jalan hidup seseorang yang didapatkan sehari-hari dalam beraktifitas.

Kakakku dari lahir hingga kuliah dan bekerja tinggal di Serang dan tak pernah merasakan merantau. Tidak begitu dengan aku, SMP aku sudah merasakan merantau dan kuliah aku sudah merantau lagi. Balik lagi ke cerita kakakku. Dengan bermodal sebuah koper, satu buah ransel, dan satu buah plastik kecil. Kakakku niatkan untuk merantau.

Dia tekadkan niat untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang dulu. Dia yakin bahwa Allah akan menggantikan yang lebih baik lagi. Beberapa minggu mencari pekerjaan, akhirnya kakakku mendapatkannya di Kota Jogjakarta. Ikut bersama sepupuku yang telah lama bekerja dan berumah tangga disana.

Entahlah aku tak tahu apa kerjaan kakakku disana. Namun yang aku harapkan semoga pekerjaan kakakku yang sekarang ini lebih baik lagi. Apapun yang dihadapi disana tetap tersenyumlah ka. Yakin bahwa hidup di dunia tak seberapa dibadingkan kehidupan akhirat.

Pahitnya hidup kau sembunyikan tak pernah kau berkeluh kesah kepada ayah, ibu dan aku ataupun yang lainnya. Kau pendam sendiri. Biarkan dirimu saja yang merasakan. Kau begitu hebat ka. Aku salut dengan mu. Dari sifat acuhmu kau perhatikan aku. Aku tak bisa membalasnya. Semoga Allah membalas kebaikan mu.

Aku tahu gajimu tak seberapa, namun kau tetap memberikan sepeser gajimu untukku. Terima kasih ka. Aku sangat menyusahkan semuanya, termasuk kau. Maafkan aku ka.

Jika boleh jujurnya aku tak ingin kau menikah dulu. Karena aku ingin kau melanjutkan cita-citamu setinggi-tingginya. Aku yakin kau pasti bisa untuk menjalaninya. Kedua aku tak tahu harus kemana jika aku dalam kekurangan uang? Hanya kau yang bisa ku andalkan. Hanya satu kakakku yang belum menikah yaitu kakak. Jika kakak sudah menikah? Harus kemana lagi aku meminta uang? Aku tahu rezeki sudah diatur oleh Allah. Aku yakin Allah lah yang memberi aku rezeki. Namun Allah pun memberi rezeki melalui perantara siapa pun yang dikehendakiNya. 

Aku tak enak jika kakak sudah beristri aku selalu meminta uang. Jika emang kakak ingin menikah dan sudah menemukan jodohnya. Nikah lah ka. Biarkan aku mencari sepeser receh untuk menyambung hidup ini. Ayah, ibu dan aku meridhoinya. Apapun itu yang terbaik untuk mu ka.

Aku tahu kau tak pernah memperhatikan dirimu sendiri. Kau perhatikan kami semua. Dulu aku sering sekali berantem denganmu, sering kali aku memarahimu, membencimu. Namun sekarang kau sangat memperhatikan aku. Kau penuhi semua keinginan ku. Aku malu ka atas perlakuan baik mu.

 Ka anak ayah dan ibu yang belum menikah tinggal kita berdua. Sebelum kita bertemu dengan jodoh kita, inilah saatnya untuk berbakti kepada ayah dan ibu. Jangan kecewakan hati mereka. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kakak, ayah dan ibu. Aku akan membahagiakan semuanya yang telah berjasa mengantarkan aku hingga aku berkuliah.

Ka aku tahu kau tak pernah mengeluh dengan keadaan. Semua anak ayah dan ibu berkuliah di luar kota. Hanya kau yang berkuliah di Serang. Anak ibu dan ayah yang D3 hanya kau. Namun kau tak pernah memprotes ayah dan ibu.

Kau dicemooh oleh kami saat kau sudah menemukan jatidirimu. Kau hadapi dengan sendiri, kami begitu bukan karena kami membenci tapi kami sayang kepada kakak. Namun kaka sudah menemukan jatidiri yang sesungguhnya. Terus berjuanglah ka. Terus menebar manfaat untuk disekelilingmu. Jaga diri baik-baik disana. Jangan pernah lupa sholat. Yakinlah bahwa Allah selalu ada dan melihat kita.

Salam cinta dari adikmu.

Nazia Maulia Amini.


Rabu, 26 Februari 2014

Ketidaktahuan

    Tulisan ini saya ikutsertakan dalam lomba menulis Kartunet Sewindu
  Dulu sebelum saya mengenal kartunet saya tidak tahu harus bagaimana untuk membantu disabilitas. Jika saya membantu takut dibilang orang yang ingin berniat jahat. Karena di Indonesia orang yang ingin bermaksud baik dibilang jahat. Dan yang akan berniat jahat dibilang orang baik. Setelah saya membaca-membaca artikel di kartunet yang telah ditulis oleh teman-teman kartuneters. Saya baru memahami dan menyadari bahwa mindset saya yang salah selama ini.
      Kartunet telah membuka mindset saya selebar-lebarnya. Walaupun saya baru bergabung beberapa bulan, namun saya menyadari bahwa kartunet telah merubah mindset saya. Dari sikap saya yang cuek terhadap fasilitas-fasilitas umum untuk disabilitas. Namun setelah saya membaca beberapa artikel yang ada dikartunet dan disosial media lainnya. Saya menyadari bahwa disabilitas juga berhak untuk mendapatkan fasilitas umum yang selayaknya guna menunjang kemandirian disabilitas dalam menunjang aktivitas. Dari fasilitas transportasi umum, pasar, dan fasilitas umum lainnya.
      Saya sekarang mulai perhatian terhadap fasilitas umum, misal saja dikampus. Ada bangunan baru dan setalah saya perhatikan ternyata di tombol liftnya terdapat huruf braile yang dapat bisa diakses oleh tunanetra. Dan tombol -tombol yang cukup pendek yang bisa dijangkau oleh tunadaksa. Namun yang cukup memprihatinkan dari tombol-tombol tersebut agak terpisah dengan tombol untuk disabilitas. Kenapa tidak disatukan saja dengan tombol nondisabilitas? Samanya saja ini dengan diskriminasi.
Hak disabilitas memang sudah terpenuhi . namun yang tetap saya tidak setuju adanya perbedaan tersebut. Padahal disabilitas dan nondisabilitas sama saja, yang membedakannya hanyalah pengurangan dalam beraktivitas.
      Para nondisabilitas belum tentu bisa melakukan apa yang disabilitas lakukan. Contohnya adalah tunanetra mampu menghafal dan mengingat jalan-jalan tanpa menanyakan disekitarnya. Coba bayangkan nondisabilitas, belum tentu mereka bisa berjalan dengan menutup mata lalu berjalan dengan menggunakan transportasi umum. Pasti akan kalangkabut. Maka menurut saya disabilitas dan nondisabilitas tidak ada bedanya. Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
Saya pernah membaca tulisan tentang sebutan bagi disabilitas. Sering sekali fasilitas umum menuliskan “khusus penyandang cacat” dan sering sekali orang awam pun menyebutkan dengan “ penyandang cacat”. Dalam artikel tersebut kata cacat merupakan kata yang pantas untuk barang yang pecah ataupun yang gagal. Masa manusia yang normal mempunyai akal, pikiran, hawa dan nafsu dibilang barang yang pecah ataupun gagal? Kan gak mungkin banget. Barang yang pecah sudah tidak memiliki nilai dan tidak mempunyai harganya lagi.
      Tidak begitu dengan disabilitas. Mereka masih punya harga dan nilainya tersendiri. Ada yang mempunyai potensi bermusik, bernyanyi, tulis menulis, dan masih banyak lainnya. Setiap manusia sama. Allah telah memberikan potensi yang sama setiap manusianya. Tinggal kembali lagi ke diri kita masing-masing. Bagaimana kitanya dan kesempatan kita untuk maju.
     Selama saya melihat-lihat dan berpetualang diblog kartunet banyak sekali yang saya dapatkan dari membaca artikel yang telah dibuat oleh teman- teman  kartuneters. Ingin sekali menulis tentang hal apa namun yang saya dapatkan hanya seberat biji zara belum ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman kartuneters yang lainnya. Namun saya berusaha belajar dari kekurangan yang saya miliki
    Saya pernah menonton salah satu sinetron di stasiun televisi swasta. Sinetron tersebut menceritakan tentang seorang gadis tunanetra. Namun saya tidak senang terhadap sinetron tersebut. Mengapa demikian?
     Pertama saya merasa bahwa sinetron tersebut telah menjelekkan disabilitas disetiap adegannya. Mencontohkan yang tidak baik kepada masyarakat. Masyarakat akan menganggap disabilitas emang harus dikucilkan, diolok-olokan dan masih banyak lagi yang tidak pantas untuk ditiru. Menurut saya sinetron ini tidak mendukung sekali  terhadap masyarakat yang inklusi.
   Di Indonesia sudah tersebar komunitas-komunitas yang menyebarkan isu inklusi namun pada kenyataannya ada sebagian pihak juga yang tidak mendukung masyarakat yang inklusi. Bagaimana masyarakat inklusi akan terjadi jika sebagian pihak tidak mendukung? Semua ini akan terwujud jika semua pihak mendukung dan membantu untuk menyebarkan isu inklusi tersebut.

Kamis, 30 Januari 2014

Hikmah dibalik Ujian 1



Tepat pada bulan mei 2012 ayahku jatuh sakit dan aku pun sedang duduk dibangku kelas 2 SMA  semester 2. Pada saat itu situasi sangat menyedihkan sekali karena ayahku yang selalu  periang kini merintih-rintih kesakitan. Aku tak tega melihatnya. Selama ayah sakit ibu lah yang merawatnya. Setelah 2 bulan ayah sakit. Aku naik ke bangku kelas 3 SMA. Selama semester pertama saya tidak mengalami kegalauan yang cukut akut.
Setelah habisnya semester pertama mulai lah kegalauan akut dimulai. Setiap Universitas sudah membuka pendaftaran. Saya sangat galau sekali mau daftar kemana ini? Daftar yang tidak dipunggut biaya dimana? Pada saat itu ayahku sudah tidak bekerja lagi alias pensiun dari kerjanya. Tepat sekali saat aku membutuhkan biaya cukup banyak. Pada saat itu ayah hanya menerima gaji setengah dari gaji pokoknya.
 Banyak sekali pendaftaran yang dipungut biaya. Saya ingat saat Institute Pertanian Bogor membuka jalur PMDK yang bernama USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB). IPB hanya membuka PMDK hanya untuk Diploma saja. Dan saya memberanikan diri untuk mendaftar. Setelah saya menanya-nanyai tentang PMDK IPB. Saya menanyakan biaya pendaftarannya. Ternyata biayanya Rp.350.000 itu hanya biaya pendaftarannya saja.
Saya memberanikan diri bertanya kepada orangtua. Apakah ayah dan ibu mempunyai uang sebesar itu? Maklum saat itu perekonomian kami sedang semerawut dikarenakan untuk biaya pengobatan ayah. Ayah sangat membutuhkan cukup biaya. Untung saja kami tidak mengutang kesana kemari. Allah terlah menuliskan jalan rezeki untuk kami sekeluarga. Setelah saya tanyakan. Ternyata ibu hanya mempunyai biaya Rp. 250.000. Uangnya tidak cukup untuk pendaftaran USMI. Saya bingung harus kemana ini? Ayah dan ibu sudah tak punya uang lagi untuk biaya pendaftaran. Ibu memberikan usul kepadaku agar aku meminta kepada kakakku yang pertama. Aku memikirkannya. Tak enak hati rasanya aku meminta kepadanya. Karena kakakku sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak.
 Mungkin kakakku ada kewajiban untuk membantu biaya saya. Tapi saya paling anti rasanya meminta dahalu. Jika kakak saya yang memberinya saya akan terimanya dengan rasa syukur. Saya lihat tabungan saya disekolah. Cukuplah untuk menambah biaya pendaftaran namun sayang tabungannya tak bisa diambil sebelum kelulusan diumumkan. Saya mencari lagi, kemana ini saya cari uang? Setelah lama saya mencari seratus ribu rupiah yang sangat berharga bagi saya. Akhirnya saya menyerah dan meminta kepada kakakku yang pertama. Kakakku langsung memberinya.
Setelah membeli formulir aku dengan sigap melengkapi data-data yang diperlukan. Setelah saya kembalikan lagi formulir dan data-datanya. Saya tak enak jika saya meminta uang lagi demi pendaftaran ke Universitas yang lainnya. Dalam hati yang saya melirih kepda yang mempunyai hati ini. Ya Allah, Engkau yang Maha Tahu keadaan hamba Mu ini. Maka mudahkan jalanku ya Allah. Aku tak mau mengecewakan keluargaku. aku tak ingin membuat mereka bersedih karena saya tidak kuliah.
Banyak sekali Universitas-Universitas membuka pendaftaran. Dan pada saat itu teman-teman dengan sigap mencari peluang yang tidak disia-siakan. Pada yang saat yang bersamaan teman-temanku mengajak aku untuk daftar di universitas yang lainnya. Aku ingin sekali ikut ajakan dari temen saya. Tapi pada kenyataannya saya tak enak jika saya harus meminta uang lagi kepada kakakku. Cukup ini saja yang harus saya meminta kepada kakak saya. Dan semoga ini pun tidak mengecewakan kakak saya.
Teman saya hampir berpikiran negative. Mengatakan bahwa saya sombong dan tidak mau mendaftar lagi karena sudah yakin denga IPBnya. Bukan masalah yakinya tapi saya  tidak punya biaya lagi untuk mendaftar. Namun dalam hati yang dalam saya pasrahkan saja kepada Allah toh Allah yang punya segalanya. Setelah kepasrahan ku serahkan kepada Allah tidak ada kegelisan terhadap apapun yang akan terjadi nanti. Sebelum pengumuman USMI saya mendaftarkan diri melalui jalur SNMPTN. Lagi lagi saya terkendala dengan biaya pendaftaran.
Pada saat itu, memang dari pemerintahnya tidak dipungut biaya namun segelintir oknum memintanya untuk beli rokok. Oknum tersebut memang cukup berterus terang terhadap biaya pendaftaran yang tidak dipungut biaya namun mereka meminta agar kami mengumpulkan uang sebesar Rp. 50.000. mungkin segelintir orang uang tersebut tidak terlalu besar. Bagi saya uang tersebut sangatlah besar. Setelah bernegosiasi akhirnya pihak oknum mengalah dan menggratisakan biaya pendaftaran. Hati saya cukup lega pada saat itu.
Saya mendaftar tidak pada Universitas yang saya inginkan karena saya tidak mengharapkan saya keterima jalur undangan. Saya telah membayangkan saya daftar dari beberapa ribu siswa  dan rasanya tidak mungkin jika keterima.
Pengumuman USMI pun tiba. Saya lupa tangga berapa itu. Yang saya ingat pada saat itu setelah kami siswa-siswi kelas 3 ada kegiatan di masjid dan guru mengumumkan bahwa pengumuman USMI telah ada di ruang BK. Saya tak sabar untuk berlari menuju ruang BK. Saya berjalan dengan rasa harap-harap cemas. Saya berjalan bersama dengan teman saya yang bernama Qori’ah. Dia juga sama mendaftar ke IPB. Selama perjalanan saya selalu menyebut NamaNya agar aku diberi ketenangan jika terjadi sesuatu kepadaku. Pas saya lihat di jendela ruang BK saya melihat namaku diberi stabilo dan itu tandanya aku keterima di IPB  dengan jurusan pilihan pertama yaitu jurusan AKUNTANSI.
Alhamdulilah ucap syukurku kepada Allah tak henti-henti. Setelah aku melihat kebawah lagi ternyata temanku Qori’ah tidak keterima. Mungkin bukan miliknya di IPB saya menghibur hati sahabat saya dari kelas 1 SMA. Ada rasa campur aduk didada antara senang dan antara sedih karena temanku tidak keterima dan tidak mungkin saya bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Tak lupa saya kabari juga kepada keluarga yang ada dirumah. Saya mengabarinya lewat sms dan saya kabari dengan “Alhamdulillah mah anak mamah keterima di IPB jurusan akuntansi” dan jawaban dari ibu “ Alhamdulilah neng, selamat yah neng”. Ternyata secara tidak sadar ibu saya meneruskan sms ke sanak sodaranya. Bangga rasanya telah membuat ibu tersenyum.