Rabu, 26 Februari 2014

Ketidaktahuan

    Tulisan ini saya ikutsertakan dalam lomba menulis Kartunet Sewindu
  Dulu sebelum saya mengenal kartunet saya tidak tahu harus bagaimana untuk membantu disabilitas. Jika saya membantu takut dibilang orang yang ingin berniat jahat. Karena di Indonesia orang yang ingin bermaksud baik dibilang jahat. Dan yang akan berniat jahat dibilang orang baik. Setelah saya membaca-membaca artikel di kartunet yang telah ditulis oleh teman-teman kartuneters. Saya baru memahami dan menyadari bahwa mindset saya yang salah selama ini.
      Kartunet telah membuka mindset saya selebar-lebarnya. Walaupun saya baru bergabung beberapa bulan, namun saya menyadari bahwa kartunet telah merubah mindset saya. Dari sikap saya yang cuek terhadap fasilitas-fasilitas umum untuk disabilitas. Namun setelah saya membaca beberapa artikel yang ada dikartunet dan disosial media lainnya. Saya menyadari bahwa disabilitas juga berhak untuk mendapatkan fasilitas umum yang selayaknya guna menunjang kemandirian disabilitas dalam menunjang aktivitas. Dari fasilitas transportasi umum, pasar, dan fasilitas umum lainnya.
      Saya sekarang mulai perhatian terhadap fasilitas umum, misal saja dikampus. Ada bangunan baru dan setalah saya perhatikan ternyata di tombol liftnya terdapat huruf braile yang dapat bisa diakses oleh tunanetra. Dan tombol -tombol yang cukup pendek yang bisa dijangkau oleh tunadaksa. Namun yang cukup memprihatinkan dari tombol-tombol tersebut agak terpisah dengan tombol untuk disabilitas. Kenapa tidak disatukan saja dengan tombol nondisabilitas? Samanya saja ini dengan diskriminasi.
Hak disabilitas memang sudah terpenuhi . namun yang tetap saya tidak setuju adanya perbedaan tersebut. Padahal disabilitas dan nondisabilitas sama saja, yang membedakannya hanyalah pengurangan dalam beraktivitas.
      Para nondisabilitas belum tentu bisa melakukan apa yang disabilitas lakukan. Contohnya adalah tunanetra mampu menghafal dan mengingat jalan-jalan tanpa menanyakan disekitarnya. Coba bayangkan nondisabilitas, belum tentu mereka bisa berjalan dengan menutup mata lalu berjalan dengan menggunakan transportasi umum. Pasti akan kalangkabut. Maka menurut saya disabilitas dan nondisabilitas tidak ada bedanya. Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
Saya pernah membaca tulisan tentang sebutan bagi disabilitas. Sering sekali fasilitas umum menuliskan “khusus penyandang cacat” dan sering sekali orang awam pun menyebutkan dengan “ penyandang cacat”. Dalam artikel tersebut kata cacat merupakan kata yang pantas untuk barang yang pecah ataupun yang gagal. Masa manusia yang normal mempunyai akal, pikiran, hawa dan nafsu dibilang barang yang pecah ataupun gagal? Kan gak mungkin banget. Barang yang pecah sudah tidak memiliki nilai dan tidak mempunyai harganya lagi.
      Tidak begitu dengan disabilitas. Mereka masih punya harga dan nilainya tersendiri. Ada yang mempunyai potensi bermusik, bernyanyi, tulis menulis, dan masih banyak lainnya. Setiap manusia sama. Allah telah memberikan potensi yang sama setiap manusianya. Tinggal kembali lagi ke diri kita masing-masing. Bagaimana kitanya dan kesempatan kita untuk maju.
     Selama saya melihat-lihat dan berpetualang diblog kartunet banyak sekali yang saya dapatkan dari membaca artikel yang telah dibuat oleh teman- teman  kartuneters. Ingin sekali menulis tentang hal apa namun yang saya dapatkan hanya seberat biji zara belum ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman kartuneters yang lainnya. Namun saya berusaha belajar dari kekurangan yang saya miliki
    Saya pernah menonton salah satu sinetron di stasiun televisi swasta. Sinetron tersebut menceritakan tentang seorang gadis tunanetra. Namun saya tidak senang terhadap sinetron tersebut. Mengapa demikian?
     Pertama saya merasa bahwa sinetron tersebut telah menjelekkan disabilitas disetiap adegannya. Mencontohkan yang tidak baik kepada masyarakat. Masyarakat akan menganggap disabilitas emang harus dikucilkan, diolok-olokan dan masih banyak lagi yang tidak pantas untuk ditiru. Menurut saya sinetron ini tidak mendukung sekali  terhadap masyarakat yang inklusi.
   Di Indonesia sudah tersebar komunitas-komunitas yang menyebarkan isu inklusi namun pada kenyataannya ada sebagian pihak juga yang tidak mendukung masyarakat yang inklusi. Bagaimana masyarakat inklusi akan terjadi jika sebagian pihak tidak mendukung? Semua ini akan terwujud jika semua pihak mendukung dan membantu untuk menyebarkan isu inklusi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar