Rabu, 29 Januari 2014

Tak Terlupakan





Entah tanggal berapa kejadian itu terjadi, tapi aku masih ingat tentang kejadian itu, dimana ayahku terserang penyakit. Ayahku sakit ketika aku sedang butuh-butuh perhatian seorang ayah,  saat aku akan mengikuti Ujian Nasional. Para medis mendiagnosa bahwa ayahku terserang penyakit strok ringan, tapi menurut kami itu bukanlah penyakit strok ringan, hanya penyakit biasa karna kami melihat dari riwayat penyakit ayah tak mempunyai penyakit kolesterol tinggi dan saat medical cek up hasilnya kesehatan ayahku normal. 
Atas rujukan saudaraku yang seorang medis akhirnya ayahku dibawa ke dokter syaraf bukannya semakin pulih dari sakitnya. Yang ada semakin parah penyakitnya. Kami sekeluarga tidak ada yang mengerti tentang kesehatan, kami tak mengerti apa saja obat yang diberikan kepada ayah. Kami tahu hanya lah sebuah kesembuhan bagi ayah dengan memberikan obat terus menerus. Kami mulai curiga dengan obat yang sangat kecil didalam resep ayahku setelah kami bertanya ke orang yang lebih paham terhadap kesehatan ternyata obat yang sangat kecil itu adalah obat penenang atau obat tidur, lah ayahku kan tidak kesulitan dalam tidurnya? Kenapa yang berikan obat tidur? Selama minum obat tersebut ayah tidur saja sampai-sampai waktu sholat pun  beliau lupa dan yang sangat mengejutkannya lagi suara ayahku semakin hari semakin hilang entah karna apa hilangnya.
Bulan pun berganti bulan, kami tak berdiam diri saja. Kami mencari para terapis atau lah dokter herbal demi kesembuhan ayahku. Setelah mencari kesana kemari akhirnya kami menemukan yang cocok. Ayahku diagnosa oleh para terapis pita suaranya terjepit dan saraf-saraf yang ada dileher semua kaku yang mengakibatkan suara dan ingatan ayahku menghilang begitu saja, karna kesabaran kami dan ada restu Tuhan akhirnya ayahku semakin hari semakin pulih tapi tidak pulih seperti dulu yang selalu ceria, yang selalu cerewet disaat apapun yang selalu jahil kepada anak-anaknya.sekarang ayahku menjadi pendiam dan kebiasaan yang dulu sering dilakukannya sekarang sirna entah kemana. 
Semenjak kejadian tersebut peran ayahku diambil alih oleh seorang ibu yang sangat kuat dan tangguh. Ibuku yang merawat ayahku dan ibuku yang mencari nafkah agar kami bisa makan, walaupun anak-anaknya sudah berumahtangga tapi ayah dan ibuku pantang untuk meminta-minta kepada anak-anaknya. Ibu tak pernah memerlihatkan muka sedihnya kepada anak-anaknya yang ibu lihatkan hanyalah muka gembira, muka senang seolah-olah tak terjadi apa-apa. Kadang aku pun sering sekali tak yakin atas kuliah yang aku jalani tapi Ibu selalu menyakinkan aku agar tetap melangkah terus mengejar cita-citaku setinggi-tingginya. Aku ingat ibu pernah berkata “Nak, ibu tidak punya apa-apa lagi selain doa, ibu disini akan mendoakanmu selalu agar kau kelak menjadi yang berguna dan sukses”.
Hingga akhir ini pun kami berharap sekali kesembuhan ayahku tercinta agar bisa beraktivitas seperti dulu dan bisa lagi memerankan perannya seperti dulu. Agar ibuku juga bisa memerankan perannya dengan sempurna. Kami sangat bersyukur Allah telah menguji kami agar kami tetap ingat Allah disetiap apapun. Allah tahu kalau kami sanggup dan bisa untuk melewatinya. Kami selalu berprasangka baik terhadap Allah mungkin di balik kejadian ini ada banyak seribu hikmah yang patut kami ambil hikmahnya. Sebagai ciptaanNya  kami selalu siap apapun ujiannya yang berikan kepada kami. Ikhlas adalah salah satu kunci menjalani hidup namun pada kenyataannya sangat sulit untuk diaplikasikan dalam keseharian hidup yang nyata. Sekian.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar